Jakarta, mediahaloindonesia.id – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) mendukung penuh festival Malaysia Islamic Art and Design sebagai platform strategis untuk memperkuat kolaborasi regional yang mendongkrak pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia. Dukungan ini diharapkan dapat menciptakan multiplier effect bagi industri kreatif, sekaligus mengejar target pertumbuhan PDB, ekspor, investasi, dan tenaga kerja sektor ekraf.
Hal ini disampaikan Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya saat menerima audiensi dari tim Malaysia Islamic Art and Design di Autograph Tower, Jakarta pada Senin, 10 November 2025. Malaysia Islamic Art and Design bisa menjadi platform budaya pertama di Asia Tenggara yang secara khusus mengangkat warisan seni dan desain Melayu-Islam.
“Kementerian Ekraf punya tanggung jawab untuk fokus pada akselerasi seperti menyediakan lebih banyak promosi dan jaringan untuk meningkatkan posisi tiap subsektor ekraf bisa mengakses pasar global. Lewat festival ini tentu Indonesia bisa membidik posisi sebagai kawasan ekonomi kreatif masa depan yang dinamis dan menguatkan kolaborasi lintas bidang seni, media, dan pendidikan,” ujar Menteri Ekraf.
Festival Malaysia Islamic Art and Design punya peran penting dalam peningkatan subsektor ekonomi kreatif, seperti pengembangan kapasitas talenta muda melalui program edukasi, workshop, residensi kreatif, dan lab Creative Exchange.
“Ada empat Key Performance Index (KPI) dari Kementerian Ekraf yaitu laju pertumbuhan PDB ekonomi kreatif, ekspor ekraf, nilai investasi, dan jumlah tenaga kerja subsektor ekraf. Ini yang membedakan dengan kementerian lain karena pada dasarnya semua bisa dilihat dari KPI yang diamanatkan Presiden. Oleh karena itu, kami mendukung kolaborasi bersama Malaysia Islamic Art and Design sehingga bakal berdampak pada KPI ekraf tersebut,” kata Menteri Ekraf.
Senada dengan pernyataan itu, Tenaga Ahli Bidang Isu Strategis, Gemintang K. Mallarangeng juga menyampaikan bahwa Kementerian Ekraf terus mendorong pertukaran budaya dan memajukan ekonomi kreatif sebagai the new engine of growth.
“Filosofi dari Kementerian Ekraf itu menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional atau the new engine of growth. Sudah seharusnya tidak ada ego sektoral antar kementerian sehingga lintas kementerian atau lembaga harus berkolaborasi menuju tujuan yang sama tanpa menghalangi masing-masing KPI yang harus dicapai,” ungkap Gemintang.
Sementara Malaysia Islamic Art and Design punya format kegiatan sebagai pameran seni dan industri kreatif tahunan yang menampilkan warisan dan praktik kontemporer Melayu-Islam secara bergilir di negara-negara Melayu. Rencananya, kegiatan akan digelar November 2026 bertepatan dengan perayaan ulang tahun Sultan Brunei ke-80 dan lokasi acara bakal berada di Bandar Seri Begawan, Brunei.
“Ketika berbicara tentang budaya melayu, tentu Malaysia, Indonesia, Brunei, dan Singapura menjadi pasar terpadu yang paling dinamis untuk dieksplorasi secara keseluruhan. Formatnya kami ingin membuat Malaysia Islamic Art and Design sebagai pameran seni dan industri kreatif tahunan yang berkesempatan giliran dari satu negara ke negara lain. Tujuannya untuk mempertemukan seniman, desainer, kolektor, dan institusi dari seluruh dunia untuk menciptakan koneksi atau kolaborasi,” ujar Paulina Gallardo sebagai Director &Advisory Ltd.
Pihak penyelenggara yang hadir dalam pertemuan ini juga berharap bisa mendapat dukungan resmi dari Pemerintah Indonesia lewat endorsement atau kolaborasi untuk menyamakan visi dan strategi yang selaras sesuai dengan prioritas nasional ekonomi kreatif. Apalagi nilai-nilai dasar dalam festival ini mengusung elemen arif (kebijaksanaan), santun, dan kasa (kekuatan) yang mewujudkan warisan Melayu-Islam sebagai identitas budaya yang berlangsung secara dinamis dan global.
“Kami butuh semacam endorsement supaya kami bisa mengajukan ke sponsor korporasi dan mudah-mudahan acara ini tetap berlangsung tahun depan,” tambah Otis Hahijary sebagai President Katha Chitta (anak perusahaan Bumilangit Entertainment dan &Advisory Ltd.













