Bandung, mediahaloindonesia.id – Dua anak harimau Benggala di Kebun Binatang Bandung mati akibat infeksi virus panleukopenia setelah mendapat penanganan intensif dari tim medis satwa lintas instansi (26/3/2026).
Humas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Eri, menjelaskan virus panleukopenia dikenal sangat berbahaya terutama bagi satwa berusia muda karena menyerang sistem pencernaan dan kekebalan tubuh.
“Secara umum, keduanya terinfeksi panleukopenia. Berbagai upaya sudah dilakukan secara maksimal, namun hasil akhirnya berkata lain,” ujar Eri di Kebun Binatang Bandung.
Tim medis dari Rumah Sakit Hewan Cikole, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP), BBKSDA, serta dokter hewan kebun binatang melakukan penanganan intensif untuk menyelamatkan kedua satwa tersebut.
“Kami sangat berduka. Kedua anak harimau ini bukan sekadar satwa tetapi sudah menjadi bagian dari keluarga besar masyarakat Bandung,” kata Eri.
Kedua anak harimau tersebut dilaporkan mati pada pagi hari saat pergantian jadwal piket petugas setelah sebelumnya sempat menunjukkan tanda-tanda perbaikan kondisi.
Tim dokter menjelaskan peluang hidup biasanya meningkat jika satwa mampu bertahan lebih dari 48 hingga 72 jam setelah gejala awal muncul.
Kondisi salah satu anakan kembali menurun drastis sehingga tidak berhasil diselamatkan oleh tim medis.
Gejala yang muncul pada kedua harimau antara lain muntah, diare, serta adanya darah pada feses yang menjadi indikasi infeksi virus pada sistem pencernaan.
Pengelola kebun binatang langsung melakukan langkah pencegahan dengan membersihkan kandang secara menyeluruh dan menyemprotkan disinfektan untuk mengantisipasi penyebaran virus.
Eri menjelaskan sumber penularan virus panleukopenia masih dalam tahap pendalaman karena dapat berasal dari berbagai faktor lingkungan.
Satwa berusia muda memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi terhadap infeksi virus dibandingkan satwa dewasa.
“Kami belum bisa memastikan apakah ada satwa lain yang terjangkit. Saat gejala muncul, anakan langsung diisolasi ke kandang karantina dan ditangani secara intensif,” ujar Eri.
Dokter hewan BBKSDA, Agnisa, memastikan diagnosis dilakukan secara cepat melalui rapid test serta pemeriksaan sampel feses yang menunjukkan hasil positif panleukopenia.
“Begitu gejala muncul, kami langsung melakukan pemeriksaan. Hasilnya mengonfirmasi bahwa keduanya positif terjangkit virus panleukopenia,” ujar Agnisa.













