Jakarta, mediahaloindonesia.id – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Irene Umar menyatakan produk ekonomi kreatif berkelanjutan justru menjadi peluang bisnis strategis yang paling dicari konsumen. Dalam acara Langkah Membumi, Wamen Ekraf menyatakan ekonomi kreatif Indonesia telah naik kelas dari sekadar sustainability menuju restorative economy yang mengembalikan keseimbangan alam.
“Banyak yang mengira sustainability hanya soal gaya hidup atau expense, padahal ini investasi jangka panjang bagi bisnis dan bumi kita. Sekarang semua brand besar sudah mulai beralih ke produk berlabel sustainable, dan menariknya, produk-produk itu justru paling dicari konsumen. Jadi, saya selalu dorong teman-teman pejuang ekraf agar melihat sustainability bukan sebagai beban, tetapi peluang,” ujar Wamen Ekraf dalam acara yang diselenggarakan oleh Blibli bertajuk “CollaborAction for the Earth” di Taman Kota Peruri, Jakarta, Sabtu, 8 November 2025.
Wamen Ekraf menambahkan konsep ekonomi restoratif ialah sistem yang memperkuat keseimbangan alam dan sosial melalui desentralisasi ekonomi di daerah. Wamen Ekraf menekankan pentingnya ekosistem lokal yang efisien, rendah emisi, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
“Kita sudah naik kelas, dari sustainability menuju restorative economy. Contohnya waktu di NTT, kami bekerja sama dengan mama-mama bambu untuk menanam bambu dan tanaman pangan lokal yang bisa mengembalikan kesuburan lahan kering. Kalau ekosistemnya terdesentralisasi, proses produksi jadi lebih dekat, emisi menurun, dan manfaat ekonominya jauh lebih besar,” jelas Wamen Ekraf.
Sebagai bentuk nyata komitmen terhadap keberlanjutan, Kementerian Ekraf juga aktif melaksanakan berbagai inisiatif lingkungan yang melibatkan komunitas dan pelaku industri kreatif. Salah satunya melalui kegiatan kolaboratif pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus lalu, di mana Kementerian Ekraf bersama sejumlah lembaga swadaya masyarakat melakukan aksi bersih-bersih area Monas hingga Lippo Mall Nusantara sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai pemilahan sampah dengan cara kreatif.
“Untuk pertama kalinya kami turun bersama NGOs, bukan hanya membersihkan kawasan tapi juga memperlihatkan contoh produksi dan pemilahan sampah menggunakan ikon-ikon lokal yang menarik. Kami ingin menunjukkan bahwa dari pengelolaan sampah pun bisa muncul nilai ekonomi, jadi kerja kami tidak seremonial tapi end-to-end, dari aksi hingga dampak nyata,” tambah Wamen Ekraf.
Langkah Membumi merupakan acara tahunan gaya hidup berkelanjutan yang diinisiasi oleh Blibli dan kini memasuki tahun keempat. Setiap tahunnya, acara ini menghadirkan tokoh publik, penggerak perubahan, dan advokat muda seperti Sandiaga Uno, Cinta Laura, Masyita Crystallin, Luna Maya, Sal Priadi, dan Ratna Kartadjoemena. Edisi tahun ini menyoroti dua isu utama: pengurangan polusi udara dan minimisasi limbah, seraya mengajak masyarakat untuk beraksi melalui kebiasaan sehari-hari yang melindungi manusia dan planet. Wamen Ekraf Irene hadir sebagai panelis dalam sesi diskusi Climate Action 101: Turning Awareness into Action.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti menegaskan bahwa sinergi lintas sektor menjadi kunci dalam mewujudkan perdagangan berkelanjutan yang berperan aktif menghadapi perubahan iklim. Ia menekankan pentingnya keselarasan visi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk memastikan aktivitas perdagangan juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan.
“Sinergi adalah kuncinya. Kita harus punya kesadaran bersama bahwa ini bukan sekadar urusan perdagangan, tapi juga tanggung jawab terhadap bumi. Isu ini bukan masalah besok, melainkan masalah hari ini karena itu kita perlu bergerak cepat mencari solusi bersama demi masa depan yang lebih baik,” tegas Roro Esti.
Sementara itu, Miss Universe Indonesia 2024 Clara Shafira Krebs menyoroti peran konsumsi lokal dalam menekan jejak karbon. Ia menyebut bahwa membeli produk lokal berarti memperpendek rantai distribusi sekaligus memperkuat perekonomian daerah.
“Dengan mendukung produk lokal, kita bukan hanya mengurangi emisi transportasi tapi juga meningkatkan permintaan terhadap produk buatan Indonesia. Dalam konteks industri fesyen, saya juga memilih untuk fokus pada timeless pieces yang tidak cepat berganti tren, agar limbah tekstil bisa ditekan dan produksi lebih bertanggung jawab,” ujar Clara.













