mediahaloindonesia.id – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) mendorong penguatan ekosistem industri film melalui tata kelola produksi yang lebih profesional, sebagai bagian dari strategi pengembangan ekonomi kreatif nasional. Hal ini disampaikan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar, dalam audiensi bersama Wahana Edukasi.
Wamen Ekraf menegaskan bahwa penguatan industri perlu dimulai dari fondasi paling mendasar, yakni pengelolaan keuangan dan sistem kerja yang tertata.
“Permasalahan mendasar pelaku kreatif hari ini adalah bagaimana memisahkan keuangan pribadi dan proyek. Ini menjadi fondasi sebelum kita bicara akses pembiayaan dan penguatan industri secara lebih luas,” ujar Wamen Ekraf di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu (22/4).
Audiensi ini merupakan tindak lanjut dari program SCENE yang berfokus pada pengembangan talenta perfilman hingga tahap implementasi. Kementerian Ekraf menekankan pentingnya menghubungkan pelatihan dengan kebutuhan industri.
Dalam diskusi tersebut, Wahana Edukasi menggarisbawahi sejumlah tantangan di lapangan, terutama belum optimalnya manajemen produksi. Peran seperti line producer dan location manager dinilai masih memerlukan penguatan, baik dalam pengelolaan anggaran, sistem kerja, maupun pemanfaatan teknologi.
Menanggapi hal tersebut, Wamen Ekraf menilai pentingnya pendekatan adaptif dengan mempertimbangkan kondisi industri saat ini. Menurutnya, pendekatan berbasis lokasi dapat menjadi langkah awal yang konkret dan relevan.
“Kalau kita punya data lokasi yang terkurasi, itu bisa langsung dimanfaatkan untuk produksi sekaligus menggerakkan ekonomi di sekitarnya. Saat ini kita bahkan belum memiliki basis data terpusat yang bisa digunakan bersama,” jelas Irene Umar.
Lebih lanjut, Wamen Ekraf mendorong pengembangan program dengan model yang berkelanjutan. Skema hybrid learning berbasis materi digital yang diperkuat mentorship dinilai dapat menjadi solusi, sekaligus membuka peluang penerapan subscription model sebagai sumber pendanaan jangka panjang.
Selain itu, Kementerian Ekraf juga mengimbau adanya kolaborasi dengan perguruan tinggi melalui pendekatan vokasi. Integrasi antara pembelajaran teoritis dan praktik industri menjadi kunci untuk menghasilkan talenta yang siap terjun ke dunia kerja.
Sebagai bentuk dukungan konkret, Kementerian Ekraf membuka peluang pengembangan platform terpusat berbasis data untuk pemetaan lokasi syuting di Indonesia. Platform ini diharapkan menjadi one-stop system yang memudahkan pelaku industri, sekaligus memperkuat daya saing Indonesia sebagai destinasi produksi film.
“Kementerian Ekraf dapat mendukung dari sisi platform dan agregasi data. Yang terpenting adalah program ini bisa segera diuji dan dikembangkan secara bertahap,” tambah Wamen Ekraf.
Sementara itu, Pembina Wahana Edukasi, Sigit Pratama, mengatakan bahwa tantangan utama di industri saat ini terletak pada penguatan aspek manajemen produksi yang belum merata. Ia menilai kapasitas pengelolaan produksi yang baik akan berdampak langsung pada kualitas proyek serta keberlanjutan ekosistem ekonomi kreatif.
“Ketika production management diperkuat, dampaknya tidak hanya pada produksi, tetapi juga pada ekosistem ekonomi kreatif secara keseluruhan,” ujar Sigit.
Audiensi ini menjadi langkah awal dalam pengembangan kurikulum berbasis praktik industri untuk line producer dan location manager, penjajakan kolaborasi dengan perguruan tinggi, serta inisiasi basis data lokasi syuting terintegrasi guna memperkuat tata kelola produksi dan mendorong ekraf sebagai the new engine of growth.
Turut mendampingi Wamen Ekraf dalam kegiatan tersebut yaitu Direktur Televisi dan Radio, Radi Manggala.












