Kementerian Ekraf Siap Gandeng Starfindo untuk Perkuat Subsektor Aplikasi

Kementerian Ekraf Siap Gandeng Starfindo untuk Perkuat Subsektor Aplikasi

mediahaloindonesia.id – Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, menerima audiensi Asosiasi Startup for Industri Indonesia (Starfindo) guna menjajaki peluang kolaborasi strategis dalam memperkuat ekosistem startup dan industri kreatif nasional.

Menteri Ekraf menyampaikan bahwa setiap pegiat ekraf harus didorong untuk naik kelas melalui kurasi, komersialisasi kekayaan intelektual (KI), serta perluasan akses pasar dan pembiayaan.

“Kementerian Ekraf memfokuskan 80 persen energinya sebagai akselerator bagi para pegiat ekraf, termasuk asosiasi startup seperti Starfindo yang sudah berdaya hingga didorong ke level mandiri. Jadi, ini wujud filosofi ekonomi kreatif sebagai the new engine of growth atau mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional,” ungkap Teuku Riefky dalam audiensi yang berlangsung di kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Rabu (15/4).

Kementerian Ekraf melalui Direktorat Kreativitas Digital dan Teknologi senantiasa menjaring para pegiat subsektor aplikasi untuk melakukan inovasi yang berkelanjutan. Lebih lanjut, Teuku Riefky menyebut subsektor aplikasi mengalami peningkatan signifikan meski menghadapi tantangan pendanaan, perlindungan kekayaan intelektual, dan target pertumbuhan PDB serta ekspor.

“Kami siap berkolaborasi dengan Starfindo melalui Program ASTA EKRAF seperti Ekraf Data dan Ekraf Bijak. Hanya saja harus dipastikan tantangan, goals, dan tambahkan direktorat atau satuan kerjanya mau mengarah ke mana saja. Dengan pendekatan kolaboratif, dampak kolaborasi akan jauh lebih besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” jelasnya.

Starfindo sendiri berada dalam ekosistem Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, dengan tujuan membantu startup yang membutuhkan solusi dari perusahaan rintisan dan percepatan dalam penyampaian teknologi. Hal ini didukung melalui Program Startup4industry.id sejak 2018 dan telah memiliki 1.300 alumni, yang mana mereka lolos inkubasi dari ranah Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan e-commerce.

Dalam audiensi, Starfindo mengajukan 7 poin strategis yang bisa dirumuskan bersama mulai dari kebijakan dan regulasi, bisnis dan pengadaan, pengembangan infrastruktur dan teknologi, akses pembiayaan dan investasi, pengembangan ekosistem dan SDM, ekspansi global dan branding nasional, serta kemudahan akses dan kolaborasi strategis.

“Inti dari tujuh poin yang kami ajukan yaitu terkait kemandirian teknologi. Starfindo senantiasa memperhatikan aspirasi dari anggota asosiasi yang tentu membuka potensi kerjasama dan kolaborasi melalui jalur pemerintahan atau business to Government (B2G). Kami berharap Kementerian Ekraf bisa memfasilitasi dan membuka jalan sehingga kami dapat arahan terpadu bersama Kemenperin juga,” ungkap Wakil Ketua Umum Starfindo, Hembang Nugraha.

Pertemuan tersebut juga membahas berbagai isu strategis, mulai dari kebutuhan insentif fiskal, transparansi pengadaan pemerintah, penguatan pencatatan ekonomi digital, hingga pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat produksi dan inovasi startup.

“Tentu kami menaruh harapan ekosistem startup bisa diminati venture capital sehingga gampang mendapat akses pembiayaan dan pendanaan dari bank. Mengingat, IP digital hanya bagian dari intangible asset, tapi perusahaan teknologi digital seperti startup justru punya valuasi dan kreativitas tentu dengan sistem yang bisa membuat roda ekonomi di Indonesia terus berjalan,” tambah Hembang Nugraha.

Kementerian Ekraf menyambut baik berbagai usulan dan akan mengkaji lebih lanjut untuk mengidentifikasi peluang kolaborasi yang paling memungkinkan serta dapat diimplementasikan secara bertahap melalui sinergi lintas sektor.

Menteri Ekraf dalam pertemuan itu didampingi Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi, Muhammad Neil El Himam; Staf Khusus Menteri Bidang Manajemen Internal dan Efektivitas Organisasi, Muhammad Yanuar Pranuradhi; Direktur Aplikasi, Tri Wahyudi; Tenaga Ahli Menteri Bidang Isu Strategis dan Antarlembaga, Gemintang Kejora Mallarangeng; serta Tenaga Ahli Menteri Bidang Monitoring Media dan Opini Publik, Hasbil Mustaqim Lubis.

Bagikan Atikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *