Sudin Kebudayaan Jakut Susun Naskah Sejarah Betawi Pesisir

Sudin Kebudayaan Jakut Susun Naskah Sejarah Betawi Pesisir

mediahaloindonesia.id – Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara terus memperkuat upaya pelestarian sejarah dan kebudayaan lokal. Salah satunya melalui Focus Group Discussion (FGD) bertema Penulisan Sejarah Lokal Kehidupan Betawi Pesisir dari Masa ke Masa.

“Referensi penting dan terpercaya”

Kepala Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara, Dya Perwita Kusuma mengatakan,

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian penelitian sejarah lokal untuk menyusun kajian komprehensif mengenai perjalanan kehidupan masyarakat Betawi Pesisir di Jakarta Utara.

“Kami berharap hasil penelitian dan FGD ini menjadi referensi penting dan terpercaya dalam pelestarian kebudayaan Betawi Pesisir di Jakarta Utara,” ujarnya, Rabu (30/9).

Dya menjelaskan, kegiatan tersebut diikuti sekitar 35 peserta yang terdiri dari unsur Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, kecamatan, sejarawan, budayawan Betawi, tokoh masyarakat pesisir, akademisi, dan tim penulis.

“Berbagai masukan diberikan untuk menyempurnakan naskah. Termasuk, mengenai keberagaman identitas masyarakat Betawi Pesisir, ritual dan tradisi lokal, serta perkembangan bahasa yang digunakan masyarakat pada berbagai periode sejarah,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Pelindungan Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Utara, Rahma Almira menambahkan, penelitian berlangsung sekitar tiga bulan, mulai 21 Juli hingga 21 Oktober 2026. Riset mencakup wilayah pesisir di lima kecamatan, yakni Penjaringan, Pademangan, Tanjung Priok, Koja, dan Cilincing.

“Penelitian menggunakan studi literatur, arsip, serta wawancara dengan sejumlah narasumber. Fokusnya meliputi mata pencaharian, tradisi maritim, kesenian, sistem kekerabatan, dan perubahan sosial budaya masyarakat Betawi Pesisir,” ungkapnya.

Ia memaparkan, kajian tersebut juga memetakan perkembangan Jakarta Utara dan masyarakat Betawi Pesisir secara kronologis, mulai dari akar peradaban pesisir pada masa awal, era Kerajaan Pajajaran, kedatangan bangsa asing dan masa kolonial, pendudukan Jepang, masa kemerdekaan, hingga perkembangan pada era kontemporer.

“Untuk memperkuat validitas data, tim peneliti menelusuri berbagai sumber primer dan sekunder, termasuk Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Perpustakaan Nasional, serta arsip museum di Belanda yang berkaitan dengan Batavia tempo dahulu,” bebernya.

Ia menuturkan, kajian toponimi sejumlah wilayah pesisir, seperti asal-usul nama Cilincing dan Tanjung Priok turut menjadi bagian dari penelitian.

“Dalam penelitian kami melibatkan beberapa komunitas, salah satunya Komunitas Tempo Doeloe yang beranggotakan sejarawan, pemerhati budaya, dan pemandu wisata tersertifikasi,” imbuhnya.

Dari rangkaian penelitian tersebut, lanjut Rahma, telah terkumpul data sejarah tertulis, masukan dan validasi dari para narasumber, serta draf awal buku Penulisan Sejarah Lokal Kehidupan Betawi Pesisir.

Buku tersebut ditargetkan memperoleh ISBN dan diluncurkan pada awal November 2026 melalui agenda peluncuran dan bedah buku yang melibatkan pelajar SMA, komunitas sejarah, pegiat pariwisata, serta komunitas kearsipan dan perpustakaan.

“Ke depan, hasil kajian tidak hanya ditujukan sebagai dokumentasi sejarah, tetapi juga diharapkan menjadi referensi bagi pemandu wisata dalam mengenalkan destinasi sejarah di pesisir Jakarta,” tandasnya.

Bagikan Atikel :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *